Laman

Jumat, 04 Januari 2013

Hai kamu..

Hai kamu,
Iya kamu,  mungkin sedang tersenyum melihat tulisan ini dengan tempo detakan jantung yang tak beraturan. Kita sih selalu menyebutnya “deg-degan”. Kita selalu begitu, bukan? Bukan maksudnya detakan jantung yang biasa mengangkut darah yang mengandung oksigen ke seluruh tubuh. Ini beda, ada kandungan lain di dalam darahnya. Ada nama aku dan kamu di masing-masing arterinya. Yang selalu membuat detakannya berbeda, yang selalu membuat rasa “meleleh” dalam dada. Rasanya hangat, berdesir kuat melambungkan rasa.

Hai kamu,
Iya kamu. Yang mungkin sedang menebak-nebak apa lagi yang akan aku tulis untuk kamu. Iya aku ingin menuliskan sesuatu yang sebenarnya lebih dari sebuah kata, lebih indah dari pelangi setelah hujan, lebih indah dari menatap langit di malam hari yang penuh dengan bintang, aku ingin menuliskan kamu, iya kamu. Cuma kamu. Tapi terkadang setiap ingin menuliskan terlebih menjelaskan ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan, dada ini rasanya sesak tapi menyenangkan. Aku lebih suka menatapmu dari pada berkata-kata—walau gambarmu yang tak jelas.

Hai kamu,
Iya kamu, yang sudah membuat senyum dalam wajahmu sepanjang membaca tulisanku ini. Hehehe.. pede sekali aku ini. Tidak apa ya, sesekali rasa percaya diri itu perlu bukan? Sama hal nyaseperti percaya pada hubungan aku dan kamu ini akan baik-baik saja. Kamu memang takut hubungan ini berujung menyedihkan, aku pun begitu. Tapi Tuhan akan  memudahkan segalanya pada seseorang yang mau berusaha. Terlebih niat kita baik.

Kamu-ku, kita punya mimpi, bukan? Mimpi bersama. Mimpi untuk bertemu dan meleburkan rindu dalam satu pelukan. Meski sebenarnya rindu itu tidak akan pernah hilang walau berjarak pelukan. Kita juga punya mimpi, duduk berdua di beranda rumah menatap senja, menikmati krincing gantungan pintu yang tertiup angin. Tangan kita saling berpautan. Saling bertukar debar. Kita juga punya mimpi, hidup bahagia meski hanya makan nasi dan telur mata sapi. Kita punya mimpi jalan-jalan berdua, bermain kembang api berdua, hanya aku dan kamu serta bertambahnya waktu kita akan berjalan-jalan dengan keluarga kecil kita yang akan kita penuhi dengan kasih sayang. Kita punya mimpi yang indah, kita masih ingin bersama, menua bersama, kita harus berusaha wujudkan semua. Jangan biarkan mimpi itu hanya menguap begitu saja.

Jadi, sayang...
Janganlah takut untuk saling mencintai begitu sangat dengan segala kemungkinan terburuk yang kita punya. Tapi lihatlah kita juga bisa membuat kemungkinan lebih indah dari saling mencintai. Kita bisa. kita mampu. Dan kita saling mencintai.

"I have loved you  a thosand year, I'll love you for a thousand more"

*diposkan juga di sini

Minggu, 02 September 2012

Cinta Pandangan Pertama

   “sial, telat”
Aku bergegas masuk ke theater dengan membawa popcorn di tangan kiriku dan tiket di tangan kananku. Karena asik jalan-jalan sendiri mengitari mall aku tak sadar waktu 30  menit begitu cepat berputar.

   “E 13” pikirku coba untuk mengingat karena lampu theater ini baru saja digelapkan. Sengaja aku pilih tempat di tengah karena jauh dari orang yang berpacaran, iya aku belum punya pacar semenjak 2 tahun lalu dikecewakan, hati pun mati rasa. Entah menjadi orang yang sulit jatuh cinta.

   “hmm, L, K, I, H, G, F, dan yup E.” Ucapku riang dalam hati mencari lokasi tempat duduk dalam kegelapan. Perlu melewati 2 orang untuk mendapati posisi tempat dudukku.

    “Tapi, tunggu. Kok ada orangnya ya?” kembali ku lihat tiket di tangan kananku namun sesaat kemudian  telepon genggamku berdering. Gawat lupa di-silent. Kurogoh handphoneku di dalam saku sembari berjalan saja aku ke bangku disebelahnya yang kosong yang berarti E 15.  Namun kakiku tersandung dan aku terjatuh tapi pria E 14 memegangiku, jika tidak aku tersungkur kelantai. Spontan ku lontarkan maaf padanya dan segera duduk namun senyumnya mengalihkan pandangku untuk sekian detik menatapnya. Tapi handphone ku tak henti-hentinya berdering.

   “hallo” bisikku saat mengangkat telepon

   “lo di mana, cha? Jadi nontonnya?” suara perempuan yang tak asing bagiku. Dia adis, sahabatku.

   “jadi, lo sih susah bener diajakin sih.” Jawabku datar

   “makanya punya cowo dong hahaha.” Adis tertawa puas

   “sial, ish. Udah ah gue mau nonton dulu” langsung saja ku tutup teleponnya dengan jengkel

Kurapihkan posisi dudukku, menatap sedih melihat popcornku yang hampir tertumpah semua akibat terjatuh tadi. Untung saja filmnya belum mulai, baru iklan-iklan film yang akan segera datang. Namun teringat dengan pria disebelahnya.

   “eh maaf ya tadi, tapi makasih juga udah ditolongin” aku menatap pria itu yang wajahnya yang tampan terpantulkan cahaya layar film. Seperti adegan slowmotion dia pun menoleh pelan.

   “oh iya gak apa-apa, lagi buru-buru ya?” jawabnya dengan suara yang mengingatkan aku kepada artis Vino G. Bastian. Dan entah lagi-lagi senyumnya itu manis dan memakukanku sesaat.

   “eh iya, ini tadi aku bingung ada yang duduk di tempat dudukku terus ada telepon, lengkap deh.” Jawabku sembari merasa aneh, entah hanya memandangnya mengapa seperti ada yang menguap dalam perutku.

    “oh emang kamu duduk nomer berapa? Ya sudahlah bangkunya kosong ini kan. Kamu nonton sendiri?”

   “oh iya ya aku nonton sendiri, kamu?” jawabku cepat dengan segera menenangkan jantung yang sedari tadi berdegup kencang.

    “aku juga, eh filmnya udah mulai tuh.” Lagi-lagi senyumnya dan aku hanya menganguk-angguk.

Aku jatuh cinta kepadamu
Saat pertama bertemu

Aku menonton film dengan perasaan tidak karuan. Selama pemutaran film sedikit kita mengomentari filmnya.

   “abis ini kamu mau ke mana?” tanyanya saat film usai

   “oh makan mungkin.”

   “eh sama, yuk bareng. Aku juga sambil nunggu  temen nih.” Jawabnya santai

  “uhm okay.” Entah wajahku terasa panas, ada desiran pelan menuju hatiku.

Setibanya di sebuah cafe aroma kopi pun langsung terhirup segar. Pria itu  memilih tempat duduk di lantai dua caffe ini yang tidak begitu ramai, Kini pria itu duduk tepat di depanku. Aku tersenyum menatapnya sembari mencoba menjelajahi setiap sudut caffe ini, hanya ada pelayan yang lalu lalang namun dia tiba-tiba tertawa kecil.

    “Heh kamu sadar gak sih, kita jalan gini tapi belum kenalan.” Aku pun baru tersadar kalau kita memang belum berkenalan. Aku terlalu sibuk untuk menenangkan hati.

   “oh iya ya, bodoh. hahaha.” sambil menepuk keningku aku tertawa lepas bersamanya, lalu aku mengulurkan tanganku.

      “aku Icha” ku coba berikan senyuman termanisku

     “hei Icha, aku Rio. Senang berkenalan denganmu.” Balasnya dengan senyum menggoda khasnya. Entah aku spontan mencubit perutnya seperti sudah akrab sekali.

Kita pun berbincang tentang dia dan pekerjaannya sambil menunggu temannya. Aku seperti terbangun dari mati suriku akan cinta. Aku benar-benar jatuh cinta setelah sekian lama tak merasa ini. Aku pikir cinta pada pandangan pertama itu hanya ada di FTV dan menertawakan setiap adegan-adegan yang sepertinya tidak mungkin untuk orang bisa secepat itu jatuh cinta.

Tidak lebih dari sejam kita mengobrol asik temannya pun datang. Pria tinggi bersih yang tampannya tidak jauh beda dengan Rio. Namun ada hal yang mengherankan, saat bertemu dengan temannya ini ada tatapan yang beda.

   “Oh iya Andri, ini Icha. Icha ini Andri.” Rio yang mencoba memperkenalkan aku dengan temannya itu. Aku berdiri dan mengulurkan tanganku namun “GLETAK” handphoneku jatuh tapi kuabaikan saja dahulu.

    “Eh iya, aku Icha.” Jawabku canggung karena melihat tatapan Andri yang sepertinya tidak suka melihatku.

   “aku Andri” jawabnya singkat. Dan kami semua duduk kembali. Andri dan Rio, dua pria tampan yang duduk di depanku

   “tinggal di mana Andri? Maaf ya mau ambil handphoneku dulu.” Aku bertanya sambil membukukan badanku mencoba meraih handphoneku di bawah meja. Belum juga dijawab oleh Andri tiba-tiba pandanganku yang tertuju pada handphone putihku teralihkan pada dua orang yang saling menggenggam tangan.

    “Ya Tuhan, ternyata mereka...”

Oh mungkin, hanya keajaiban Tuhan
Yang bisa jadikan hambanya yang manis
Menjadi milikku



Ditulis untuk meramaikan #30harilagukubercerita
Terinspirasi dari lagu Kasidah Cinta – Dewi dewi

Senin, 27 Agustus 2012

Satu Orang Galau, Dua, Tiga Orang Terpengaruhi

Di suatu bimbingan belajar, kelas intensif menghadapi UN SMP yang seminggu lagi namun kelas sudah mulai tak kondusif dan bersemangat belajar. Isna, guru bidang studi Matematika di salah satu bimbingan belajar.

“Oke, assalamu‘alaikum, selamat malam.” Sapa Kak Isna yang baru memasuki ruangan yang berisikan 12 siswa.

“wa‘alaikumsalam. malam.” Jawab siswa serentak. Beberapa langsung memperbaiki posisi duduknya, sebagian yang lain masih asik mengobrol dan Tentor—panggilan untuk guru les—melihat sekeliling dan tersenyum.

“oke, yuk kita mulai belajarnya. Ini pertemuan terakhir kita, jadi kakak hanya akan membahas sesuatu yang kalian belum paham. Hingga saat ini di Matematika materi apa yang belum kalian mengerti?”

“kak, saya bingung yang ada modal awal, modal akhir terus ditanya bunga dalam berapa bulan gitu. Itu gimana ya caranya?” tanya Bima

“Oh itu aritmatika sosial ya? Oke jadi contohnya kalau.....” kak Isna menjelaskan dengan santai lalu sambil melihat sekeliling yang mulai ribut.

“Ini masa kakaknya ngejelasin masih aja rame, ayo dong perhatikan. Coba itu kamu yang dipojokan udah jangan mainan hape aja.”

“Syifa lagi galau kak, baru putus dia.” Celetuk Adit sambil tertawa dan diikuti oleh teman-temannya.

“Ah diem lu, dit” sergah Syifa sambil memasukan hape-nya

“Kak, saya suka bingung belajar Matematika.” Lanjut Syifa

“Bingung kenapa?” tanya tentor Isna dan mengernyitkan dahinya.

“Kita belajar matematika tapi kok tidak ada penerapan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam suatu hubungan.” Jawab Syifa dengan memasang wajah polos dan sepertinya patut dikasihani.

“Ada kok.” Kak Isna menanggapi.

“Masa kak? Buktinya saya belum pernah menemukan contoh soal bagaimana menyelesaikan permasalahan jika modal awalnya adalah cinta dan mendapat bunga-bunga kehidupan yang indah tapi modal akhirnya yang saya terima selalu menerima kepahitan.” Syifa yang memasang ekspresi datar itu membuat satu kelas pun tertawa.

“Jrit, Syifa galau klimaks.” Sambar Ghozi.

“Eh tapi bener ya kak, kita belajar Matematika penerapan pada kehidupan sosialnya terlebih pada kehidupan asmara itu tidak ada.” Fitri pun ternyata ikut-ikutan.

“Contohnya kita belajar Peluang. Tapi kita tidak diajarkan mendapatkan Peluang yang kita hitung atau kita cinta. Mentok-mentok di Peluang Harapan.” Lanjut Fitri sambil cengengesan.

“Eh eh eh, kok jadi galau semua gini?” Kak Isna memukul-mukul papan tulis untuk menghentikan keributan di dalam kelas.

“Udah yuk kak kita ngobrol aja, bosen belajar melulu.” Keluh Syifa

“Kok gitu? Udah jadi mana lagi yang ingin ditanyakan lagi?”

Eka yang duduk di depan langsung membuka kertas dihadapan Tentor Isna dan membacakan soal matematika yang menurutnya membingungkan. “Ini kak, kalau ada soal seperti, suatu pekerjaan direncanakan 30 hari dengan 15 pekerja tapi baru dikerjakan 6 hari dan terhenti selama 4 hari. Jika pekerjaan itu diteruskan, berapa pekerja yang harus ditambahkan?”

Hening sesaat, terlihat kak Isna sedang berpikir. “Oh ini namanya perbandingan berbalik nilai, Ka. Jadi kamu tinggal mengalikan ini dan ini lalu hasilnya dikurangi sama pekerja awalnya.” Kak Isna menjelaskan di papan tulis dengan pelan-pelan.

“Kak, kalau soalnya gini kak. Jadi jika ada pacar yang selalu membandingkan pacarnya yang sekarang dengan mantannya itu masuk ke perbandingan apa kak?” Adit kembali cengengesan sambil melirik Syifa.

Kak Isna hanya menghela nafas dan melanjutkan mengajarnya mengenai Fungsi dan Pemetaan  namun tiba-tiba Adit celetuk. “Kak, kita belajar Fungsi dan Pemetaan tapi kok saya sudah nyoba memetakan hati saya ke dia kenapa tidak berfungsi mengubah pemikirannya?” Adit pun memberi cengirannya.

Kak Isna hanya mengusap-ngusap dahinya. “Aduh ini kalian menjelang UN jadi pada galau semua ya?”

“Kak, punya pacar?” Tanya Syifa

“Kenapa?” Kak Isna mulai curiga

“Umur kakak berapa?” Lanjut Syifa

“Ih kamu mauan deh, mau banget atau mau aja? 25 kenapa? Kamu punya kakak”

“yeay kakak. Cuma mau ingetin umur kakak aja sih kak. Kok aneh belum nikah kak?” Hening sesaat lalu siswa pun tertawa memecahkan keheningan. Kak Isna hanya  bisa menghela napas.

Kamis, 23 Agustus 2012

Semacam Renungan Aja

Saya punya Tuhan yang baik, Allah. Selalu mempertemukan saya dengan orang-orang yang memang direncanakan untuk belajar. Belajar segala hal, belajar ilmu bermanfaat, agama, bahkan belajar cinta dan kekeluargaan serta tegang rasa *kaya pelajaran PKN aja*. Ya walau hanya bertemu untuk jadi temen curhat atau mengenalkan lagi ke orang lain lalu mempertemukan saya dengan kerjaan baru saya, dengan jodoh saya mungkin. Gak ada yang sia-sia di dunia ini, begitu pun dengan pertemuan-pertemuan dengan orang lain. Meski kadang suka ngerasa “aduh gak kuat.” Sedih, galau, ngeluh sering saya ngalaminnya. Padahal kan Allah memberi ini semua cobaan buat saya makin dewasa. Maafin nae ya Allah.

Saya selalu merasa Allah itu orang tua saya. Tempat meminta sesuatu, seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada orangtuanya. Saya pernah meminta sesuatu ya yang mungkin salah, kalau diibaratkan itu anak kecil yang merengek ingin sesuatu, masih belum tahu apakah itu baik atau tidak tapi tetap merengek namun orangtua akhirnya memberikan agar si anak belajar. Istilahnya dalam psikologi jika ingin melarang sesuatu itu tidak boleh menggunakan “jangan” atau “tidak”. Tapi orangtua memberi penjelasan dahulu kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan, bahayanya apa. Namun kalo si anak ngeyel kan nanti disuruh nyoba aja, tapi dari jauh. Bukan berarti mempersilahkan anak  terjerumus ke jalan yang salah, gak begitu. Ya seperti itu, saya pernah meminta sesuatu dan mungkin itu salah lalu Allah memberikan petunjuk-petunjuknya untuk kembali ke jalan yang benar *asik kaya ustadzah aja*.

Ya, itu yang saya alami. Manusia kan selalu dihadapkan pada beberapa pilihan yang setiap pilihannya memiliki konsekuensi. Tapi saya percaya aja sama Allah. Apapun pilihannya nanti jika itu salah, Allah akan memberi petunjuk kok. Tapi saya tetep aja ya ngebandel gitu masih suka ngelanggar atau belum mengikuti ajaran sebenarnya dalam al-qur’an. Ya ada usaha kok buat lebih baik sih. Saya sayang Allah, terima kasih telah selalu menjaga saya dan hati saya juga iman saya yang naik turun gak jelas semoga semakin jelas dan mendekat kepada-Mu.



Bandung 01.05
23 Agustus 2012

Rabu, 15 Agustus 2012

Rumahmu

Aku senang duduk di kursi kayu taman, ya taman depan rumahmu. Menunggu pintu rumahmu terbuka dengan sesekali mengayunkan kakiku, sebagai penghilang penat.

Rumahmu teduh, sangat teduh. Membuatku nyaman berlama-lama di sana. Meski beberapa tahun lalu rumah ini didatangi orang yang berlalu lalang untuk mengisi keriangan rumahmu, namun kini sepi, namun tak juga kamu membiarkan ku masuk.

Tapi aku tak mau diam, aku berlari mengitari rumah tempat yang kamu diami, nyaman. Lariku dengan riang, leloncatan seperti anak kecil yang sedang kesenangan. Aku intip rumahmu dari jendela yang kacanya sedikit retak, mungkin pernah terbentur sesuatu yang keras. Belum juga diperbaiki. Aku intip dari kaca yang sedikit berdebu, ku bersihkan dengan lengan bajuku, arahnya memutar. Ku lihat dirimu tersenyum melihatku. Jantungku berdetak semakin kencang, sangat hebat. Samar-samar wajahmu sayu teduh, namun matamu terlihat keresahan mendalam di sana.

Aku berlari menghindari rumahmu. Takut mengganggu, pikirku. Tapi akalku terus berputar, memikirkan bagaimana mengajakmu keluar, menikmati indah bersama, aku dan kamu
Tangga sudah ku siapkan, aku sedang ingin membuatkan pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kuwarnai langit rumahmu dengan simpul pelangi yang indah.

Ya, aku sedang menarik perhatianmu, cara entah kesekian kalinya aku berbuat ulah agar kamu memperhatikanku. Namun, kamu hanya mengintip dari balik jendela, lalu kembali menarik kain penutup jendela.

Hujan deras mengguyur rumahmu, menghapus pelangiku untukmu. Aku duduk di kursi tamanmu, menggigil. Dingin, sangat dingin. Sama seperti sikapmu. Kembali ku lihat kamu mengintip di jendela menatap ku iba. Tapi kembali lagi kamu menarik kain penutup jendela tersebut.

Suatu hari aku menemukan tulisan di rumahmu, "Tunggu, ku perbaiki dulu rumah ini. Akan ku bukakan pintu untukmu. Tapi tunggu."

Aku menunggu, waktupun berlalu. Rumahmu belum juga diperbaiki, pintunya pun tak juga terbuka untuk membiarkan ku masuk. Aku termenung, apakah aku terlalu memaksakan kehendakku? Mungkin aku harus pulang, dengan meledak-meledakan balon berisikan asa untukmu.

Aku pulang, mungkin rumahku belum cukup huni jika kita nanti bertukaran rumah. Aku akan buat rumahku nyaman, untuk kamu siap huni nantinya.

posted from Bloggeroid

Sabtu, 05 Mei 2012

Selamat Ulang Tahun, Kamu

Hey halo. Apa kabar kamu? Ya, aku harap kamu baik-baik saja. Dan sepertinya memang begitu. Seharusnya aku posting ini pada tanggal 30 April lalu, Cuma baru sekarang aku sempat menulisnya.

Hmm dari mana ya? Aku selalu bingung memulai dari mana jika ingin memulai percakapan denganmu. Mungkin terasa aneh, hampir satu tahun berlalu aku masih suka menuliskan hal-hal berhubungan denganmu, seperti tulisan ini. But I don’t care what people think about me, termasuk mungkin pemikiranmu yang menganggap aku belum move on. Seseorang tidak harus memiliki pacar dahulu untuk dikatakan dia sudah move on, bukan?

As the title of the post, I just wanna say Happy Birthday to you. Biasanya di pergantian hari, aku menelponmu lalu memberikan doa-doa terbaik untuk kamu. Aku ingat bagian terakhir dari doaku untukmu. “... Semoga kamu terus menyayangiku, dan makin sayang.” Ya sama seperti doa-doa para kekasihnya. Dan kamu menjawab “Amin amin, terus doakan aku ya. semoga.”

“Doaku dan sayangku menyertaimu”

Maaf ya, aku hanya bisa mendoakanmu dari sini. Semoga dengan bertambahnya usiamu sekarang kamu selalu terus semangat, jika ada kesulitan berdoalah dalam solatmu dan mendekatkan diri pada yang maha kuasa. Ayo mulai untuk rajin solatnya ya. Ini untuk kebaikanmu juga. Maaf jika dahulu mungkin caraku salah mengajakmu untuk ibadah lalu menjadi perdebatan kita karena aku ingin mencintaimu karena Allah.

Aku tak seperti kamu yang kreatif sekali memberikan kado video kata-kata romantis. Di saat aku sudah buat, scrapbook dan video untukmu. Tuhan berkehendak lain. Tidak apa, yang penting kamu bahagia. Bicara tentang bahagia, sepertinya kamu sudah beberapa kali mendapat pengganti aku ya. I glad to hear that. Listening a good news about you is a good thing about me. Seriusan.  Semoga dia mampu mengajakmu dalam kebaikan. Tidak dengan aku.

Aku selalu berharap kamu bisa mencapai apa yang kamu cita-citakan, mendapat apa yang kamu inginkan dan selalu didampingi dengan orang yang kamu sayang, pun keinginanmu yang menikah muda. You’re a nice person. Saya yakin kamu bisa, kamu dapat.



Untuk kamu yang ahli psikolog,

Terimakasih pernah menjadi psikolog pribadiku

Terimakasih pernah mencintaiku>

Terimakasih, dan

Selamat mengulang tahun kelahiran.